Kamis, 12 Juli 2012

 umbu sang empu
 
by Lentera Bias Jingga on Thursday, February 9, 2012 at 1:49pm ·
biar..biarkan siang meradang menguliti hari
di jalan-jalan membayang carut marut lelaki
dan lalu lalang janji  menikung beringsutkusut
kebut tinggalkan perempuan di bawah tenda
mereguk racun dalam hidup
yang ia yakin tak kan sia-sia

entah mengapa
lalu patahkan pancang siang ,
yang selalu menghalang di depan
membawa angan pada harapan
melukis dengan waktu
senandung dengan peluh
melenggang tak tak berirama tak  berubah
hingga membakar nyali tabah jadi abu serakah

biar..biarlah matahari tepat di atas
membakar seluruh  isi kepala
yang pernah ditumbuhi pepohon asa
hidup yakin tak pernah sia-sia setanjak usia
dari padang gembira berbalut duka nestapa
dan menyiangi seluruh rasa ringkih
menggumpal lalu membuncah dalam dada

bukankah peluh isyarat duka hidup adalah derita
dalam  tumpukan harta-harta  dan rayuan kuasa
lalu mengapa diri menyerah dalam jeratan materi?
padahal waktu cuma secuil ragu yang terus memburu
meneguh nafsu hingga memutar ke ujung  waktu

biar..biarlah  perempuan adalah waktu yang
menunggu sejak setia menyulam selendang rindu
tentang kasih yang membentang dalam rajutan kalbu


lentera bias jingga
9 pebruari  2012

Tidak ada komentar: