jalan sepi puisi
dari tubuhku engkau menulis puisi
puisi yang lelaki
puisi (yang mungkin kau anggap) diksi sejati
dari tubuhku engkau menulis
puisi
puisi yang sepi
puisi (yang terlanjur kau anggap) seraut elegi
bahkan...
dari tubuhku engkau ingin
melukis hati jadi puisi
puisi yang berjanji
puisi (yang tak selera buat kau
maki) mati puisi tak berisi
sudahilah...
semua hasrat yang menggebu- gebu
ambisi puisi dari tubuhku
sebab (bukan kutaktahu) kau telah mencederai rasa kata
kau telah melukai tanganmu
yang mulai tak berdarah
kau telah melukis langit yang bernanah
tanpa warna tanpa makna
30 Desember 2013
Selasa, 22 April 2014
Melati di Hati
[kelahiran pemilik janji]
kulihat melati itu
mengelopak
menebar wangi semerbak
walau cuma dua tangkai
di taman nan sepetak
pagi tadi
ia mekar tanpa matahari
mengembang tanpa halimun
walau embun menjuntai
di kakikaki tangkai dedaun
setelah dini
kumandang senandung pujapuji
gaung melantun ke langit
tanpa cahaya bulan
tanpa kemerlap bintang
pun malam eloklah
membiar diri didendang angin
dingin menyelimut tubuh bumi
menunggu datang pagi bawa melati
mengelopak di taman sepetak
siapa yang hendak
merawat wangi semerbak?
tak seperti dipetik
dipajang dalam rangkai
puspa sehari pelaminan
tak seumpama iseng dipetik
tangan kekar tak simpatik
buat dipasang dalam jambangan
Medan
25 Desember 2013
[kelahiran pemilik janji]
kulihat melati itu
mengelopak
menebar wangi semerbak
walau cuma dua tangkai
di taman nan sepetak
pagi tadi
ia mekar tanpa matahari
mengembang tanpa halimun
walau embun menjuntai
di kakikaki tangkai dedaun
setelah dini
kumandang senandung pujapuji
gaung melantun ke langit
tanpa cahaya bulan
tanpa kemerlap bintang
pun malam eloklah
membiar diri didendang angin
dingin menyelimut tubuh bumi
menunggu datang pagi bawa melati
mengelopak di taman sepetak
siapa yang hendak
merawat wangi semerbak?
tak seperti dipetik
dipajang dalam rangkai
puspa sehari pelaminan
tak seumpama iseng dipetik
tangan kekar tak simpatik
buat dipasang dalam jambangan
Medan
25 Desember 2013
Embun Menepi
dalam selaput kabut
jalan setapak terasa dingin
roda depan tertancap
di pecahan cadas
Tersengalsengal nafas
semangat lelaki
menjemput rindu di ujung
jalan itu
terus memburu
sebelum matahari jatuh
di bubungan atap rumah kayu
lelaki di jalan sepi
terus mendaki
setapak demi setapak
jejakjejak sepeda tak bertepi
terus mengatur denyut nadi
sebelum mataharijatuh di pucukpucuk jati
namutrasi, 15 Des. 2013
Yang kucatat
Tentang Pak Tua
semakin tak yakin aku dengan nama.
kata orang-orang seberang
dulunya ia penghulu kata
bahasanya mendunia
kelakuannya bijaksana
kecerdasannya terdengar
kemana-mana
kini ia telah tua
semua kata-kata dijadikannya senjata
semua bahasa dididiknya
jadi bala tentara
segala kebijaksanaannya
jadi benteng kuasa
seluruh kecerdasannya
melekat pada dayang-dayang istana
lagi-lagi dia lupa
segala itu bukan lagi dirinya
segala nama akan segera sirna
semua bahasa meracun
setiap tanda
semua kata jadi berbisa
ketika ia berbicara
untuk atas nama budi bahasa
Tentang Pak Tua
semakin tak yakin aku dengan nama.
kata orang-orang seberang
dulunya ia penghulu kata
bahasanya mendunia
kelakuannya bijaksana
kecerdasannya terdengar
kemana-mana
kini ia telah tua
semua kata-kata dijadikannya senjata
semua bahasa dididiknya
jadi bala tentara
segala kebijaksanaannya
jadi benteng kuasa
seluruh kecerdasannya
melekat pada dayang-dayang istana
lagi-lagi dia lupa
segala itu bukan lagi dirinya
segala nama akan segera sirna
semua bahasa meracun
setiap tanda
semua kata jadi berbisa
ketika ia berbicara
untuk atas nama budi bahasa
GM, 13, Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)