Selasa, 22 April 2014

jalan sepi puisi

dari tubuhku engkau menulis puisi
puisi yang lelaki
puisi (yang mungkin kau anggap) diksi sejati

dari tubuhku engkau menulis
puisi
puisi yang sepi
puisi (yang terlanjur kau anggap) seraut elegi


bahkan...
dari tubuhku engkau ingin
melukis hati jadi puisi
puisi yang berjanji
puisi (yang tak selera buat kau
maki) mati puisi tak berisi

sudahilah...
semua hasrat yang menggebu- gebu
ambisi puisi dari tubuhku
sebab (bukan kutaktahu) kau telah mencederai rasa kata
kau telah melukai tanganmu
yang mulai tak berdarah
kau telah melukis langit yang bernanah
tanpa warna tanpa makna


30 Desember 2013
Melati di Hati
[kelahiran pemilik janji]

kulihat melati itu
mengelopak
menebar wangi semerbak
walau cuma dua tangkai
di taman nan sepetak

pagi tadi
ia mekar tanpa matahari
mengembang tanpa halimun
walau embun menjuntai

di kakikaki tangkai dedaun

setelah dini
kumandang senandung pujapuji
gaung melantun ke langit
tanpa cahaya bulan
tanpa kemerlap bintang

pun malam eloklah
membiar diri didendang angin
dingin menyelimut tubuh bumi
menunggu datang pagi bawa melati
mengelopak di taman sepetak

siapa yang hendak
merawat wangi semerbak?
tak seperti dipetik
dipajang dalam rangkai
puspa sehari pelaminan
tak seumpama iseng dipetik
tangan kekar tak simpatik
buat dipasang dalam jambangan
 

Medan
25 Desember 2013



Embun Menepi

langit pagi sembunyi
dalam selaput kabut
jalan setapak terasa dingin
roda depan tertancap
di pecahan cadas
Tersengalsengal nafas

semangat lelaki
menjemput rindu di ujung
jalan itu

terus memburu
sebelum matahari jatuh
di bubungan atap rumah kayu

lelaki di jalan sepi
terus mendaki
setapak demi setapak
jejakjejak sepeda tak bertepi
terus mengatur denyut nadi
sebelum matahari
jatuh di pucukpucuk jati 

namutrasi, 15 Des. 2013


Bunga Mayang

ia tidak lagi menanti
sampan itu singgah di dermaga

sebab esok jalan setapak
disusuri dengan sepeda

rindu pada gadis seberang
telah berulang
menunggu angin datang
gelombang pecah di karang


14 Desember 2013
Yang kucatat
 Tentang Pak Tua


semakin tak yakin aku dengan nama.
kata orang-orang seberang
dulunya ia penghulu kata
bahasanya mendunia
kelakuannya bijaksana
kecerdasannya terdengar
kemana-mana

kini ia telah tua
semua kata-kata dijadikannya senjata

semua bahasa dididiknya
jadi bala tentara
segala kebijaksanaannya
jadi benteng kuasa
seluruh kecerdasannya
melekat pada dayang-dayang istana

lagi-lagi dia lupa
segala itu bukan lagi dirinya
segala nama akan segera sirna
semua bahasa meracun
setiap tanda
semua kata jadi berbisa
ketika ia berbicara
untuk atas nama budi bahasa


GM, 13, Desember 2013


menolak

sekali pagi langit tak tampak
padahal awan luput mengarak

mungkin
sedang menulis sajak
memilih diksi
untuk mengucapkan: Tidak!!!



11 desember 2013
ya...mengapa?

walau kudengar dari tetangga
masih ada kelakuan
yang mengusik rasa
atas nama kekuasaan
kegembiraan yang mereka punya
dari negeri yang setengah hati
mengaku berbhinneka



bulan menyemangati
saudara-saudara
yang berbeda
di taman aneka nusantara, 6 desember 2013