Jumat, 05 November 2010

Nanda..ku (si anak panah)


pergi...
pergilah anakku
...sebab dunia di luar sana
adalah bukan duniaku lagi
seperti apa, sekarang di kepalaku
seperti apa, terbayang olehku
seperti apa, kualami hari ini

nanda....anakku
masa tak selalu sama
walau kadang bagai berulang
walau ia kadang menjenguk
walau pun terus menyapa
namun itu hanyalah asa
yang terus kusemai
padamu helai demi helai
masa yang tersenyum
lalu terus menumbuh
bagai bunga di taman
yang mewarna, merona
bagi hari depan

by: zulkarnain siregar

Medan, 04 Nopember 2010

Kamis, 04 November 2010

dendang ombak

by Zulkarnain Siregar on Thursday, November 4, 2010 at 4:59pm

angin laut bawakan biduk

melaju di dendang ombak

arungi petang merangkak

hingga dermaga berjejak

pun sempat kukecup deru angin yang ingatkan aku pada seorang gadis belia putri melayu jelata

bersahaja, bukan keturunan raja, pandai berpantun dan merawat kata agar hati sesiapa tak jadi

cela.konon rayu tak memilih sesiapa untuk menyapa lewat helai-helai kata yang mengalun lembut

dari bibir angin laut di sepanjang petang jelang malam.

pun sempat kuhela dendang ombak yang membawa biduk hingga dermaga, tatkala senja ingin sua

terbayang di benak segala laku yang memesona kala belia tersenyum seadanya tanpa direka-reka

raga siapa yang tak menanti nyana? ia berbaju kurung dan berselendang rupa tanpa polesan warna

kayak menyala-nyala diantara gadis putri melayu sama jelata.

pun kusampaikan pada laut yang menghadang setiap jengkal rinduku tentang harum rambutmu yang

hitam panjang sebahu dari haluan biduk ini sebelum angin membawaku ke tepi. sebelum biduk merapat

ke dermaga. lalu kutuliskan juga puisi seadanya pada sekuntum seroja yang pernah kau letakkan dekat

jambangan di meja kamar kita berdua. saat kau inginkan agar setiap kata jadi bermakna.

lalu biduk merapat ke dermaga

menambat tali pada penyangga

membuka helai demi helai cerita

jalin makna melayu tak berkasta

itu awal bahasa cerminan bangsa

by : zulkarnain siregar

awal nopember 2010

buat siape saja ingin menyape

Selasa, 02 November 2010

rindu melayu awal merayu

susur sungai riau ke hulu
mencari asal bandar awal
kampung rebah itu dahulu
jejak istana sultan tinggal

dari penyengat lalu ke bintan
dengan biduk labuh ditambat
titian isyarat melayu kuantan
pepatah disusun di balai adat

sejak dahulu malaka ternama
puan dan tuan masih teringat
walau melayu pemula bahasa
marwah negara dijaga hormat

sultan riau melancong ke johor
mencari permata intan baiduri
beribu pantun negeri kesohor
perawi gurindam Raja Ali Haji

hulu riau hunian pulau beribu
rumah berdiam puak-puak ulu
tepak dan sirih pemula melayu
adab dan santun perisai maju


tanam bakau di selat panjang
benih dibelikan para saudagar
ingat melayu di tanjungpinang
purna perangai adab berakar


oleh : Zulkarnain Siregar
peserta TSI III Tanjungpinang


buat : Ibu Tati (Walikota yang penyair) dan Pak Sani (Gubernur Kepri)
Bang Akib (Kadis Kebudayaan & Pariwisata yang penyair)
Bang Hoesnizar Hood (juga penyair)

terima kasih yang tak terhingga atas layanan dan perhatian selama acara berlangsung. Sukses Buat Tanjung Pinang . Bravo...

Minggu, 31 Oktober 2010

ziarah waktu

lalu tetirah dan ziarah menemu masa
gairah bahasa pengawal sua bangsa
pada resam dan bai'at gurindam ada
...nasihat agama sungai mengaliri kata

mengapa janji terpuji terus menanti
helaian pasal gurindam Raja Ali Haji
akar melayu beribu pantun ini negeri
seluruh budaya mengimbuh rasa hati

pun aku mencari di tikungan sisi waktu
yang pergi dibawa deru angin perahu
walau palung-palung ikut merayu batu
namun teguh meluluh ragu dalam rindu

Tanjungpinang 30 hari bulan sepuluh
singgah kaki di makam asa menyimpuh
segala rupa yang lalu niscaya seteguh
tabiat kata selalu dengan jari sepuluh

kapal merapat dari hulu riau yang dulu
mencari pangkal sejarah teraju melayu
tahan tiada lapuk ditelan waktu berlalu
di penyengat itu tanda terlukis di pintu

by : Zulkarnain Siregar



30 hb Oktober 2010



Pulau Penyengat, Tanjung Pinang



Kepulauan Riau

Minggu, 24 Oktober 2010

sang pengail

by Zulkarnain Siregar on Monday, October 25, 2010 at 10:13am

ada tekun yang ditabur

dalam setiap umpan dan

sepotong asa nantikan

tiba melongok riak muka

air dan gemericik kail-kali

pada pinggiran rumpun aur

di sepanjang hulu wampu

yang sejuk dan menghijau

tenang dalam wajah kali ini

lalu cahaya mentari mengintip

petang dan menebar sabar

bagai menyulam mewarna

pesona pada sutra lembut

tak berserat di setiap denyut

waktu hadiri utuh diri

pada setiap episode

renung yang panjang

detil kail yang coba kau

pahami hingga lalu lalang

kanak-kanak jurung depan

umpan yang menari-nari

oleh liku beningnya air

telah memecah seluruh

gundah kalbu yang dalam

melubuk tak berhingga

oh... kau ajari aku hidup

dari semesta sabar yang

tak terbilang. lalu padukan

seluruh waktu pada bingkai

yang bijak : "waktu adalah

air yang mengalir di kali

dan riangnya kanak jurung

menikmati aroma bening

tak terlalu keruh oleh hijaunya

lumut di bebatuan setiap

rasa"

hmm... aku lalu menyurut

dalam seluruh saku kailmu

by : zulkarnain siregar

dalam bijakmu pengail

25 oktober 2010

Sabtu, 23 Oktober 2010

ingin kupanggil ..amang

by Zulkarnain Siregar on Sunday, October 24, 2010 at 3:15am

entah mengapa ini syair

tak seperti yang lain itu

(....................) bukan lupa

meneguh janji dalam jiwa

kala ruh mengalir ke raga

ini kata telangkai masa

pernah ada awali cerita

terbayang segala rupa

garis-garis hidup dirasa

nubuat itu pewari tanda

pada riwayat terbaca

ada langkah, rezeki, temu

bukan nestapa tak ada daya

menggurat pada telapak

tangan di kiri dan kanan

pada nasib siapa saja

lalu risaukan laku budi

sungguh taklah mungkin

bisa ada rasa dan asa

menyemai tuk dapat

bergumam andai

sekalipun ada

pada mimpi

bersua denganmu

amang

pernah rindu menyertai kata

tatkala berlari di pematang,

senja masih rekah menjingga

sebelum air di hulu aliri buluh

betung hendak genangi petak

sawah sawah nan hijau

hingga ke lembah sana

masa lalu hilang begitu saja

pergi tanpa pamit tuk siapa?

biarkan malam bersanding bulan

lalu kutulis rindu pada sehelai daun

yang jatuh dari ranting akasia di ujung

jalan sebelah sana, ada cemara menanti

esok yang alpa dari hingar bingarnya kota

lalu ragukan aku bukan darahmu

agar lidahku tak kelu panggilmu

amang...!


· · Share


Facebook © 2010 · English (US)

Selasa, 19 Oktober 2010

Din...ini malammu

by Zulkarnain Siregar on Tuesday, October 19, 2010 at 7:34pm

Din...

aku tau

ini bukan malamku

yang pernah kutitip

pada sehelai rembulan

yang bercahaya purnama lalu

kutuliskan rindu dengan bintang

bintang yang kupetik ketika kejora

meninggi di utara buat isyarat siapa saja

walau aku pernah menulis prosa di selembar

kertas berwarna merah muda tentang

malam-malam yang bercerita pada

rembulan purnama di yogya

menebar cahaya lewat

pesona mantra kata

entah itu dari siapa

jadi apa,lalu

bermakna?

secuil saja

malammu dan malamku

ada di sepanjang randu

yang berliku-liku selalu

merayu pati hingga tayu

Din...

bulan di atas itu

selalu ingin menunggu

bibir merahmu yang bergincu

kerap tersenyum kala kalbu merayu tabu

by: Zulkarnain Siregar

catatan yang tertinggal perjalanan pati tayu