Jumat, 05 April 2013

ibunda toba

by Lentera Bias Jingga (Notes) on Sunday, March 24, 2013 at 2:00am
terbayang wajah  ibunda
yang mengajarkan kata
tempat muasal umpasa
menenun teduhnya suara

sepanjang padang hariara
ibunda merawat cinta setia
buat anak-anak yang dicinta
bekal kelak mengenal dunia

dari rumah-rumah kayu tua
tak terdengar tangisan duka
alam ikut mentasbihkan toba
ketika merawi hata ni debata

anak lelaki pembawa marga
saudara perempuan menjaga
cinta setia ibunda tanah toba
tak lekang karena harta benda

suara-suara langit dan bukit
disalin jadi musik bonapsogit
dan kain-kain yang bercerita
penyulam benang tiga warna

ibu yang mengajarkan kata
setiap janji bukanlah dusta
sebab adab tutur berbahasa
pertanda batak satu saudara

cinta menyimpan semua rasa
setiap umpasa dan doa-doa
walau satir atau oda adanya
isyarat rindu pada ibunda toba


lentera bias jingga
suara teduh dari hati yang menyala
24 Maret 2013,
 nyanyian kampoeng
 
basuh jiwa dan menyejuk hati, 
tatkala hening racau  alam.
riwayat  kampoeng 
 asal tanah menjadi cerita
 
desau angin perlahan
 mencumbu ubun di kepala. 
 dingin merasuk sumsum
helai-helai daun menari-nari diterpa
batang padi mengiringi irama
irama samba.  padang sentausa
 
 rindu ibu meransum siang 
dalam bungkus  pelepah  daun pisang
harum  daun ubi tumbuk
dalam rantang dan ikan asin bakar, 
menanti panen padi dalam nyanyian  di simbolon
 
menghalau  lelah di dangau sejenak 
gemericik air di pancuran 
lima, tujuh, sebelas  bangau putih 
terbang  merapat 
mencari sepat di pematang bawah
ikut menanti sisa tulang 
dan ransum melukis sawah arah 
ke bukit menjulang langit 

lentera bias jingga
pusara seni

dalam gumamnya
ia menikam langit
dari teriak ambisi dan dengki
agar semburat merah memecah
lalu mengalir dalam buncah nanah

para lelaki tertawa di padang ziarah
menyaksi tubuh-tubuh seni terbujur
tanpa nyawa, tanpa suara, tanpa siapa-siapa
dalam bangkai busuk menusuk
sebab belati kuasa
telah menikamnya berkali-kali
hingga ia mati
lalu ditinggal pergi

bukan janji

by Lentera Bias Jingga (Notes) on Friday, April 5, 2013 at 3:41pm
ia pun berhenti dan mati
dari perjalanan tak bertepi

tak ada lagi risau keluh
tak ada lagi tetes peluh

sebab jiwa telah pergi
sebab hati  telah berjanji

waktu hanya menundanunda
apa hidup masih bermakna

jejak-jejak kaki cuma saksi
tuah badan mungkin berarti

siapa sesungguh pemilik janji
lalu datang tak pernah dinanti


lentera bias jingga
5 hbaprildoeariboetigabls

Rabu, 03 April 2013

sepertinya ini bukan rindu



kusalinkan 
selarik rindu
pada 
kertas hijau ungu 


lalu kuselipkan 
pada setangkai 
bunga jambu
di taman rumahmu

 
" Din, 
aku baru di sini menunggu
tak sampai sejam lalu."

 

silhuet


rindu 
pada bulan 
terselaput awan. 

mengintip di 
balik kabut. 

tak ingin terang dan jalang
 waktu sejati


pagi tadi
dingin telah pergi
angin seperti terkunci
dalam ruang-ruang
yang berdinding sunyi

dalam hening panjang
langit seperti tak ingin
memekikkan gemuruh
langit seperti berdamai
dengan cahaya pagi
mega pun bergulung sepi
ia telah pergi memenuhi janji