Minggu, 17 Oktober 2010

pun hingga apa

by Zulkarnain Siregar on Sunday, October 17, 2010 at 3:14pm

masih terasa bau debu basah

seketika hujan tiba menyapa

petang tadi, hangat siang pun

perlahan beranjak menyusup

ke pori-pori hawa sisakan sua

sehari penuh penat lalu pergi

ke jemari dedaun pinus depan

rumah rona hijau-hijau penyela

mata, menyeka peluh sukma

yang tinggalkan lara pada masa

tak berhingga entah sampai apa

sayap-sayap kelelawar menyeruak

senja, langit tirus merona jingga

kala mata terpana pada flamboyan

merah luna perayu nantikan malam

hingga setiap telaga hati putih bening

yang dikelilingi puspa aneka warna

tempat kau dan aku merangkai asa

sebelum janji seia sekata jadi makna

lantas terjaga apik dan sentausa

titahkan pejalan teguh cari tanda

di setiap masa menyulam kata

kemudian ke frasa untuk legenda

pergilah bersama malam menyapa

hening yang membatu tak merayu

hati, larutkan rasa setiap jendela

kata yang terbuka hanya buatnya

by:zulkarnain siregar

saturday night.pukul 20.05

Rabu, 13 Oktober 2010

kutitip rindu pada sajak

by Zulkarnain Siregar on Wednesday, October 13, 2010 at 1:18pm

I

di cafe itu kulantun lagu zadul

milik abang-abang dulu ...hmm

i can't stop loving you. andaikan

riwayat cinta kerap berseteru

kuak kenangan, kepakkan sayap

lalu kau campakkan aku ke celah

ragu. tanpa kau tahu kupungut

rindu yang jatuh satu demi satu

walau waktu terus berlalu hingga

patah teraju, kalbu meratap pilu

II

namun, risau tak ingin beranjak jua

sebab-sebab syair tak beri warna

pada hijaunya dedaunan. begitukah?

lalu lagu kedua ingin merona sejuta

nada. sayang....seribu kali sayang

melati di jambangan layu di tangan

ketika tembang sayup kedengaran:

".....alun sebuah simfoni kata hati

disadari / merasuk sukma kalbuku

dalam hati ada satu /....." setelah

malam-malam pun pergi entah apa

bersama bulan , ribuan gemintang

III

tinggal asa terlilit di relung masa

rindu lalu meraja, merias rupa-rupa

ingin terjaga memekak seluruh raga

mencari-cari jikalau ada suara lembut

yang tiba-tiba :

" ....When i fall in love / it will be forever

or i'll never fall in love /in a restless world

like this is /love is ended before it's begun/

and too many moonlight kisses / seem to

cool in the warmth of the sun/ .........."

di ujung sana, lewat nada dering merayu

kelopak bunga, lalu mekar dan mewangi

dari dini hari sampai pelupuk mata pagi

terbuka

rindu memang bukan kata-kata. lalu hadir

dan nyata entah untuk siapa saja.

By : Zulkarnain Siregar

Rekaman dalam acara bersama teman kampus

off Country cafe

Senin, 11 Oktober 2010

hendak kemana kata ?

by Zulkarnain Siregar on Monday, October 11, 2010 at 3:30pm

ingin kuraut kata

yang kau titipkan

kemarin petang

dalam amlop lila

dekat jambangan

kembang kenanga

di sudut kiri beranda

lalu esoknya kurangkai

aneka puspa dalam vas

kayu coklat corak rusa

yang kau beri pertanda

di setiap bingkai pereka

sebagai peneguh sukma

bahwa kita ada di sana

lusa aku pun bertanya

pada seluruh ahli sastra

di jagad semesta budaya

ada apa dengan kata ?

terus menua sering silang

sengketa, bukan karena

makna terikat gramatika

By: Zulkarnain Siregar

medan 11 Oktoer 2010

Kamis, 07 Oktober 2010

Kuin Tujuh Syair

by Zulkarnain Siregar on Thursday, October 7, 2010 at 8:47am

di tengah bising kota

aku sempatkan reka

rasa hatimu di dada

yang gundah gulana

karena lama tak sua

aku lupa entah apa

yang membuat ada

rupa melahirkan asa

pun begitu tergesa

menjelma jadi daya

memang watak masa

siapa yang menduga

andai ada raga tanda

jiwa pun lalu terbuka

bila hendak menyapa

ini jalan menata kata

merangkai pin makna

mengubur prasangka

tanpa selalu kecewa

pada hidup bersahaja

bukan kota yang tega

pisahkan rasa manusia

dari logika-logika benda

yang dipajang terutama

demi gairah nafsu kuasa

apa yang hendak dikata

kalau badan tak bahagia

dikejar benda ilusi dunia

sepenuh masa jiwa nista

habis usia dalam penjara

mengapa suka bersahaja

berpikiran jelas seadanya

tak terbiasa mengadaada

bantu membantu sukarela

bukan ingin mencari nama

by: Zulkarnain Siregar

hijau abu-abu, 22.50, mengakhiri 6 oktober 2010

Senin, 04 Oktober 2010

dalam janji yang tak biasa

by Zulkarnain Siregar on Monday, October 4, 2010 at 4:49pm

kuhirup harummu malam yang menebar ke sela-sela jendela kamar tidur yang telah kau pasangkan gordin ungu berenda hijau warna kesukaan.lalu kau petikkan kuntum cempaka beserta helai daun mudanya di jambangan meja kecil di sudut kamar tempat kau selalu menyulam sapu tangan berwarna lembayung sembari menunggu aku ketika bulan belum meninggi.sesaat kugapai lengan lembutmu yang selalu menadah tulus menanti waktu selalu merayu untuk pergi bersama kelam yang mendendang tembang menunggu

lelap tiada begitu panjang, entah

dalam janji yang tak biasa

kepada gumamku lirih:

" oh..malam!”

detak-detik jam yang tergantung di atas kosen pintu kamar ,berisyarat dengan suara merdu memesona keheningan tubuh malam yang terbalut sutera putih, lembut nan halus, lalu ingin membisikkan asa pada setiap sisa ruang ventilasi yang membuat aku terus ingin menghirup harummu malam yang menyebar ke setiap relung hati perawan dalam bejana pualam tempat segala cahaya menepi

warna

raga

rasa

kata

mula

asal

kita

jadi

sejati

dalam

hari

hari yang

akan

terhenti

lalu bulan menitip cerita malam pada seorang aku yang tengadah mencari tuhan dalam setiap garisgaris yang terpantul lewat jambangan kaca tempat putik-putik puspa cempaka menghias kamar rupa oleh sesiapa melahirkan anak-anak kata dari desah ranjang hangat

pabila

selimut

kelam

nanti

dini

menyapa

masa

memang malam terus merona dalam harum tubuh putik-putik cempaka

by : zulkarnain siregar

bersama embun malam

lima oktober duaribu10



Sabtu, 02 Oktober 2010

pun sepi direguk waktu

by Zulkarnain Siregar on Saturday, October 2, 2010 at 11:42am

malam telah mengantar aku

ke ruang sepi, tanpa jeruji

pupus raga tak memberi setitik

pun cahaya dari celah dinding hati

yang suka aku ajak untuk bergumam

mencari dirimu dalam jemari waktu

selalu tak berhingga....

lalu kureguk perlahan sepi itu

dalam cangkir detak nadi mencair

mengalir... ke setiap kujur tubuh

tiada rasa anyir yang tersisa dari

tadi siang yang terang terawang

wangi halimun malam telah merasuk

menyentuh seluruh ruang kalbu tuk

lalui meringkuh pelupuk di pucuk khusuk

lamat-lamat rindu itu tersipu-sipu malu

dalam cerita masa lalu yang penuh elu

ketika semua tahu laku itu hanya ria melulu

wandai pun sepi terus kureguk

malam-malam tak akan lagi hadir

di kerumunan senandung sendu

yang bawa mata hati jadi benci

walau pun sepi terus kureguk

siang-siang tiada lagi hadir

di kerumunan rindu ditandu

buat setiap kata membatu

lalu aku boleh cemburu pada malam

yang membawa kau ke balik itu bilik

tempat semua pesona tumbuh ranum

mewangi, lalu mekar di bawah jendela

tempat pagi menitip sinar di sela senta

tersenyumlah.........................

karena riuh kicau burung menyanyikan

pagi riang di ranting-ranting ketapang

telah merayu sepi lalu pulang berbaring

menunggu sepi malam kembali berulang

by : Zulkarnain Siregar

menutup 2 oktober 2010

entah apa namanya

by Zulkarnain Siregar on Friday, October 1, 2010 at 11:22am

kutuliskan rasa ini

padamu kawan,

dengan kata-kata

yang tak seberapa.

sepertinya kita

pernah berteman

walau tak saling

sapa begitu lama

hampir......

tiga dasawarsa

aku jadi malu

karena tak seperti

yang dulu-dulu itu

by: me