Sabtu, 07 Agustus 2010

sajak para pencari malam


pun ia menari dengan kepaknya yang lembut
bagai membuka setiap umpama isyarat malam
dengan tubuh mungil dandan raut yang natur
putih kemilau pualam merayu rupa rembulan

banyak dahan-dahan tertegun menatap gerak
yang indah ketika kepaknya berdendang ria
sejak senja itu tiba. ada yang menepuk tangan
berhentak kaki, lalu melenggang terbawa irama

waktu terus merangkak membawa sajak berima
yang tersusun apik dari helai-helai aksara kota
hingga rusun-rusun yang tiada tertata parapraja
tempat para pencari malam menyeka peluh setiap
kata. sepertinya makna tak selalu menjadi apa ada

apa cahaya rembulan menembus dahan-dahan malam
di beranda kota yang sesak oleh gemerlap rasa, entah
tiada berpenyangga, mengusik raga tanpa berkata ada
menyapa setiap dinding kota tanpa ragu dengan irama

niscaya para pencari makna meranggas
hati daun-daun yang tumbuh di lereng
malam tempat para sesepuh menguji diri
tersungging kulum ditemani rembulan..
yang tak hendak meninggi puncak lara


by: zulkarnain siregar
hutan jati jagawana
7 agustus 2010

Kamis, 05 Agustus 2010

Masih Jelas Kudengar Dialog Lebah

Today at 10:48pm | Edit Note | Delete

seperti apa engkau mencari makan?

(.........................
.........................
terbang rendah di serbuk sari tanpa
merusak putik dan kuncup puspa
yang hendak mekar, di pagi juga
petang yang pulang ke sel sarang
..................................................)

seandai apa engkau meramu sarang?

(..................................................
mencari ketinggian yang tak terjamah
sesiapa nun jauh di ufuk lamatan para
pejalan dan tualang yang hingarbingar
dalam usil laku anak bertelanjang dada
.....................................................)

entah bagai apa engkau siangi siang

(.....................................................
kasih dari puan memimpin kami dalam
sel sarang yang sebadan, tak pernah
terabai oleh utamanya ratu, niscaya
serbuk sari jadi madu di ujung waktu
-----------------------------------------)

lalu hingga bagaimana kepal mengerang

(.....................................................a
ketika sarang diserang terbang, lumatlah
kan radang menabuh genderang perang
di segala celah yang himpitkan petualang
tandingkan lawan sanding segala kawan
............................................................)

lalu kutanya setiap singgah, di sela-sela rute
jalan setiap raga yang titipkan sebait epilog
batin yang mendedah jiwa, masih merindu
adakah lagi setiap suratan itu seperti: lebah?

begitu tasyakur dalam bingkai sunatullah


by: zulkarnain siregar
malam ini sujud tasyakur
05 Agustus 2010
greengreen grey

Malamku Bersama Tarian Hujan

Yesterday at 9:10pm | Edit Note | Delete

lalu malam pun tiba
mengintip celah jendela kaca
tempat kita pernah bercengkerama
di rumah sua hari-hari melahirkan nada
tentang cinta, manusia,prilaku dewa-dewa
sesaat hujan mulai bertandang berikan tanda
entah penuhi janji suka cita yang keberapa

begitu jua
terasa sentuhan rintik demi rintik
berirama samba mengusik lantunan malam
yang tiada ada pergi menjauh merajut balada
tentang senandung raga bersama tarian hujan
penuhi kata di atap rumbia tempat selimut malam
menutup malam dengan segala pelepah rupa mayapada

kini tiba ku bersimpuh
pada langit yang menurunkan tarian hujan
di antara nada-nada kemarau yang mengering
membuat bumiku sempat terluka dan terlunta-lunta
sertakan aku lalu menikmati tarian hujan di hadapan
jalan-jalan yang membuat semua jiwa jadi tenteram

kemudian,
malam ini juga aku ingin menari bersama tarian hujan
yang semarak , mendendangkan kata dan nada puja
selamat malam hujan yang mengalir dalam setiap iga


by:zulkarnain siregar
hujan menepis hati
rindu menjelma kata
4 Agustus 2010

Siapa Melayu ku


lalu aku mencari tahu
dari rumpun-rumpun bambu
yang rimbun di gunung-gunung batu
tempat aksara ditulis pada pelepah kayu
dan tangkai daun-daun di belahan waktu

benarkah itu ibuku ?

lalu aku mencari tahu
pada semua tarikan garis yang
pernah ada di bingkai ornamen kayu
yang menghitam pekat dilapisi waktu
sebelum prasasti diukir pada batu-batu

benarkah itu ibuku ?

lalu siapa melayu ku yang kunjung tahu
berabad-abad lalu datang menegur sipu
dari rahim seorang ibu menurunkan aku

lalu siapa melayu ku yang bersenandung merdu
membujuk rayu dari masa-masa yang tiada ragu
persuntingkan ibu bagi melayu anak-anakku


siapa melayu ku ?

ibu yang menurunkan aku
ibu yang menurunkan anak-anakku



ini larikku: Zulkarnain Siregar
Batangkuis-Kotarantang : 15 Mei 2010
disalin ulang : 2 Agustus 2010

Sepenggal Ingatan di Kampus Padang Bulan

ada setangkai asa yang berbunga malam itu
merona warna dalam jambangan kristal caya
di bawah sinar lampu violet seribu watt terpa
wajah-wajah belia yang merajut kantata ria
sebelum semuanya larut ke peraduan diapit
waktu yang sebentar lagi tinggalkan gundah

sepertinya bintang di luar sana ingin berbincang
dengan seisi malam lalu titipkan tembang riang
pada jejak setiap perjamuan yang membawa aku
ke ruang lengang tak berbatas tempat segala
cita dan suka tumbuh berbiak , memicu wewangi
buku, pesta dan cinta di kampus-kampus sajjana

lalu dengan sepotong roti dan bandrek susu telah
membingkai malam dalam rentang yang terhingga
merangkak susuri dini perlahan, butakan pagi pada
seluruh senandung yang mewarna setiap bianglala
ketika langit pagi tak lagi seperti hari-hari lalu yang
yang dibalut resah pada seisi malam yang tak tersisa

ada setangkai asa yang berbunga malam itu
merona warna dalam jambangan kristal caya
di bawah sinar lampu violet seribu watt terpa
wajah-wajah belia yang merajut kantata ria
......................................................
......................................................

konon malam menyapa para penjaga kata-kata
ketika para penakluk asa lalu bergegas meramu
makna untuk biarkan semua rasa dalam rupa-rupa
tempat hati sesiapa mengisi malam penuh ceria


by : Zulkarnain Siregar
Simpang Selayang 30 Juli 2010

Trilogi (Zul, Sang Embun,Iphal Hombink

Saturday, July 24, 2010 at 4:53pm | Edit Note | Delete

ada lelaki yang memetik dawai, sesaat menghalau penat di benak.
lalu, perempuan menyulam syair di setiap tangga nada.
mengalun nyanyian senja di tengah marcapada

lalu ada kenari yang menari lincah diatas dahan jambu yang meregang sepi...
menanti....sang kekasih menitip cinta diantara pelepahnya

perlahan menyurut temaram
jingganya senja terus merenda
padang ilalang sembari mengulum rayuan
... desah seruling para gembala yang menghalau pulang
jendela masa yang tak hirau akan rupa sang tifa
..........................
................................
.................................................................
..................................................
hm
betapa
warna mengusik rasa

jingganya lembayung senja
menghantarkan rindu didada
adakah dia merasa
ini aku ada untuknya….

Lalu, penyulam itu terjaga dari mimpinya dan mendapati dirinya berubah menjadi belalang.



by : kolaborasi (zulkarnain siregar, sang embun dan iphal hombink)
medan, 24 Juli 2010
pukul 17.00 WIB

warnarasa

Saturday, July 24, 2010 at 4:34pm | Edit Note | Delete
Uploaded via Facebook Mobile
ada lelaki yang memetik dawai,
sesaat menghalau penat di benak.
lalu, perempuan menyulam syair
di setiap anak tangga nada.
di ujung hari angin mengalun
bawa nyanyian senja di tengah
gelora marcapada
perlahan menyurut temaram
jingganya senja terus merenda
padang ilalang sembari mengulum rayuan.
desah seruling para gembala yang menghalau pulang
jendela masa yang tak hirau akan rupa sang tifa
..........................................................
.................................................................
..................................................
hm
betapa
warna mengusik rasa

..... sapa tifa membuka suasana
tak kan pernah serupa seperti apa
yang pernah ada pada masa-masa...
nyata atau terjaga. sebab lelaki pemetik dawai
hadiri jiwa yang penat di tengah sengketa raga
para punggawa dan dewangga
.....................................
.....................................
......................di lain waktu
perempuan penyulam syair lalu
meramu tembang dalam senja di tengah marcapada
sebab ada tifa membahana lampaui jendela masa



By : Zulkarnain Siregar
24 Juli 2010